Posts

Step by Step & Biaya Surat Sehat LPDP 2019 (RSUD Budhi Asih)

Image
Minggu ini gw lagi bolak-balik ke RS untuk mengurus surat sehat buat sebagai salah satu persyaratan mendaftar LPDP. Sebenernya, tahun 2018 lalu gw udah sempet mengurus surat sehat di RSUD Budhi Asih. Gw memilih RS tersebut karena gak terlalu mahal dan RSnya udah familiar sama prosedur tes kesehatan untuk LPDP. Selain itu, karena domisili gw di Tebet, jadinya RS ini lumayan terjangkau jaraknya. Kesan gw terhadap pelayanan di RS ini lumayan bagus pokoknya. Tapi, karena satu dan lain hal, gw gak jadi daftar LPDP tahun lalu dan surat sehatnya gak kepake deh, sayang juga sebenernya (Anggep aja buat MCU tahunan yak wkwk).  Untuk pendaftar tujuan Luar Negeri, ada tiga surat yang harus disubmit: surat sehat, bebas narkoba dan bebas TBC. Tahun lalu di RSUD Budhi Asih gw abis sekitar 395 K, dengan rincian sebagai berikut:  Pendaftaran                    : 15K  Admin                 ...

Approved! A line we ought to see

Selama bekerja di kantor,  entah udah berapa kali gw mendengar kata-kata Approved.  Ia jadi semacam password yang harus diisi sebelum pekerjaan bisa dilakukan. Jika belum di approved, you do it on your own risk. Kalau mau cari aman dan selamat, carilah approval itu.  Meskipun kadang permintaan approval hanya memperlambat proses dan tidak praktis, namun untuk urusan pekerjaan ini masih hal yang wajar dan bearable. Sayangnya, seeking for approval tidak hanya terjadi di kantor, dalam hidup pun terkadang kita meminta persetujuan orang lain. Sadar atau tidak. Memang bentuknya tidak terang-terangan, tapi hidup yang 'normal' dan 'wajar' sesuai norma yang berlaku di masyarakat seringkali menjadi approval yang menentukan arah hidup seseorang. Misalnya, seseorang yang sudah lulus kuliah ya harus bekerja. Umur segini udah seharusnya mulai memikirkan masa depan (re: mencari pasangan hidup dan menikah). Sesudah nikah ya sewajarnya punya anak, dst dsb. I did not against the no...

#30HariBercerita Hari Kelima

Halo,  Sudah tanggal 6 Januari, sudah tidak menulis empat hari.  Rupanya cukup sulit untuk konsisten menulis di blog. Di instagram sendiri sudah sangat ramai dengan postingan 30HBC. Tapi benar-benar berbeda rasanya tahun ini. Tahun ini 30 Hari Bercerita bagiku semacam menulis untuk diri sendiri, begitupun tulisan orang lain hanya seperti berbicara dengan diri mereka sendiri. Jadi, yasudah tanpa tendensi.  Akhir-akhir ini, rasanya aku mengantuk sekali. Cannot work functionally without coffee, even after. Entah harus minum berapa galon kopi setiap harinya. Apa yang salah ya? Apa aku anemia juga? Tidur tidak kurang dari tujuh jam per hari. Tapi, mengantuk terus. Aneh.  Gigiku sedang sakit. Punggung juga sakit. Hah mengeluh semua isinya post ini.  Ya sudah, tidak apa-apa. Terima dulu ya.  Rasa tidak nyaman itu manusiawi kok. Tidak perlu buru-buru dibasmi (sepertinya).

#30HariBercerita Awal Cerita

Tahun ini, seperti dua tahun sebelumnya aku memutuskan untuk ikut #30haribercerita. Tapi barangkali tahun ini sedikit lebih senyap dibanding tahun sebelumnya. Aku ingin menulis, yang panjang. Salah satunya itu, lainnya karena sebenarnya aku hanya ingin menulis saja tahun ini. Bukan karena menginginkan respons orang lain, bukan karena likes, comment dan juga repost oleh admin #30HBC. Tapi karena aku kangen menulis yang, menulis saja. Tanpa intensi yang berat untuk memukau.   Lagipula, semakin hari aku semakin merasa IG bukan tempat yang nyaman. Terlalu penuh dan banjir. Ia bukan ruang sunyi dan ruang cerita yang aku butuhkan. Ia serupa, galeri? Untuk menunjukkan siapa kita, apa yang kita pikirkan, apa yang kita lakukan. Tapi aku juga masih tidak kapok dengan #30HBC. Meskipun tahun sebelumnya aku merapel 11 hari, pada akhirnya selesai juga. Kupikir, setiap tahunnya ketika menulis selama 30 hari ini, aku tidak pernah ada di tempat yang benar-benar sama. Tahun per...

On Duality, Lessons from Lisa Nichols

Image
Pencerah Nusantara plays a big role in my life. That’s true. It’s a giant leap, an uncomfortable one. And on this road less traveled, not only I figured many things about health problem, I also discovered more about me. During my times here, I finally am able to realize my ugly truth. Back when I was in the city, everything is so chaotic, but comforting pleasure is just one door away. I easily reach my parents, easily hanging around and eat good food, hoping into amusing things, etc. But here, I confront it myself, with more limited access to those distracting pleasure. I then became fully aware of it. And it’s hard. Really, really hard. At some points, I ever tough that I going through a mild depression. Those who know me will know that I quit reserved, content and calm. I hardly open my stories to anyone. I see it as a sign of weakness. So, I don’t usually tell people about my struggles. But here, I keep on contacting my friends and mentors, to give me encouragement....

For the Joy of Writing

Image
Halo semua, Assalamualaikum! Sudah lama sekali gue gak ngeposting sesuatu di blog. Almost two years (wow, quite a long time) It is not that I forgot my blogspot, no. I remember it. But, while I want to make a good article, I keep postponed it. As I become more concious of how a good writing is, I become more and more afraid to publish something. "It is not good enough", myself said. "It is cheesy" "Can't you make a more scientific ideas or beautiful phrase?" and the list goes on and on.  I didn't show any of my writing to public, until I began to join #30haribercerita in instagram. For me, writing in IG has less pressure compared to blog or web (yah walaupun sekarang juga kerasa sih pengen lebih bagus lagi caption dan fotonya). Singkat cerita, gw ikut program ini dua tahun. Then I realized something, I can write. I have that ability in myself. Yet the doubt and insecurities keep running on my mind. I got a LOT of support and encouragement fro...

#CampusHighlight Tingkat Akhir

Hello, it's me! Sekian lama gak nulis di blogspot, kangen uga.  Kali ini gw mau cerita tentang kehidupan mahasiswa tingkat akhir.  Yap, sekarang gw udah di semester 8 FKM UI. How is it feel? heemmm campur aduk haha.  Tingkat akhir itu tinggal nyisa skripsi.  How could I say  "tinggal skripsi" while I am stressed out about it? *le cry* Things about skripsi is... it's all about you, yourself and yes, only you! It's you who determine your success, not your friends, not your dospem, not the system.  And for procastinator like me... it's like waiting for some thing to be burn out, as you find that deadline is approaching and facts that you really need to do your skripsi in the injury time. hell yeah scared me out. Sekarang gw ngeskrip sambil kerja di PT X (as mentioned in skripsi, haha). All I want to do is finish my skripsi before May (read: before I go to Thailand yiheay) And after that? Sebelumnya gw berpikir pengen magang (lagi) sambil nunggu w...