#CampusHighlight PKM Pengabdian Masyarakat 2015 Part 2
Setelah gw tau kalau PKM M tugsel berhasil lolos didanai Dikti,
gw langsung merencanakan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Here I act as
project leader, so I have responsibility to plan it well. And that was the first
time I got my PKM lolos didanai dikti. I’ve submitted some PKM back then, but
none of them granted. And knowing that there’s only three team in FKM who
granted by Dikti, I feel a bit…. proud, I guess?
But holding a PKM project is not an easy job. Or you can read
this as: “OMAIGAD THAT’S QUITE LOT OF SHITTY STUFF WITH PKM, I MUST
SAY!”
How could I describe it? Lets use Expectation VS Reality
mode:
Expectation: Yes, I granted IDR 10.000.000
yuhuu so let’s make a good program. We start from this to this and that *and
bunch of plan*
Reality: Uang turun bertahap. Tahun ini dana
dikasih dalam presentase 70% : 30%. Pengumuman PKM lolos didanai bulan januari,
dana 70% baru turun bulan April sementara monev awal Juni dan kita diminta sudah
menyelesaikan 90% program. And the last 30% would come after pengumuman PIMNAS
around July. This make most of PKM team struggle .How can we manage to run the
program if the money itself baru turun bulan april dan awal juni program udah
harus selesai? Ya, sebenernya sih kalau niat kita bisa nyari pinjeman dana dulu untuk biayain program di awal. (In the end of this post, I will write some
lesson learned from PKM and saran buat tim pkm didanai selanjutnya, biar post
ini gak berisi keluhan negatif doang)
Expectation: fokus ngejalanin program aja,
laporan bisa nanti.
Reality: Gila banyak amat sih yang harus
dikumpulin pas monev. Logbook, laporan kemajuan, IKJP di simlitabmas, poster
ukuran sekian-sekian, laporan dana, bukti pengeluaran. Perintilan goes too far
*buang semua kertas*
![]() |
Bunch of perintilan for monev *burp* |
Expectation: bisa lah ya ngejalanin program,
satu tim juga udah pada deket dan udah ada pembagian jobdesk yang jelas
Reality: PKM could be a really tiring
exhausting project. Things with PKM is, it’s not as mengikat as organisasi, not
as prestisius as lomba lainnya dan lama yaitu empat bulan. Apalagi kalau
tim pkm dari beda-beda fakultas dan angkatan, makin susah nyatuin jadwal kumpul.
Everybody has their own bussiness, which you couldn’t bother.
Based on those fact above, this is my lesson
learned and tips for tim PKM didanai UI selanjutnya, biar gak mengulang
kesalahan yang sama dengan gue dan makin banyak yang bisa ikut pimnas dari UI:
1. Masalah dana memang pelik, dan mengutip kata Kak Wegit
(ketua UITP 2014) ini udah jadi masalah klasik PKM di UI bertahun-tahun.
Perubahan ada, sistem sedang menuju ke arah yang lebih baik. Tapi, mungkin perubahan itu gak langsung jadi tahun depan. Sambil menunggu sistem uang yang lebih baik
oleh Dikti dan UI, di awal program tim PKM cari pinjaman dana
dulu. Cari pinjaman ke dosen atau orangtua adalah opsi terbaik karena
gak harus ribet administrasi birokrasi, cukup modal rasa saling percaya. Uang
PKM itu pasti turun kok sesuai yang tertulis di simlitabmas. Jadi, uang buat
ganti pinjaman Insyaallah ada. Bisa juga patungan anggota tim, jadi semacam set
up cost gitu. I am not recommend nyari dana dari pihak atau lembaga lain karena
prosesnya lama, bisa sebulan-dua bulan. Sementara yang kita butuhin adalah dana
awalan biar program bisa berjalan bertahap (khususnya PKM M yang harus interaksi dengan masyarakat). Perkirain aja
kira-kira butuh dana minimal berapa buat ngejalanin program di dua bulan
pertama.
2. Report atau laporan di PKM aspek yang penting banget. As I
said, PKM itu banyak perintilannya, salah satu yang paling PR adalah logbook
harian. Jadi, ketika kamu lolos PKM, segeralah beli logbook atau buku folio.
Langsung garis-garisin kolom di buku yang isinya tanggal kegiatan, siapa saja yang ngelakuin,
tempatnya dimana, hasilnya apa, biaya keluar berapa serta dokumentasinya. Nah,
every single rapat harus didokumentasiin. Bagusnya, kelar rapat sekretaris
langsung nulis hasilnya di logbook. Sesi dokumentasi juga harus peka,
ngedokumentasiin segala hal dan record it dengan rapi sesuai tanggal.
3. Buat poin komitmen tim dalam ngejalanin program, I just can
say “bismillah aja deh sebelum beneran mau bikin pkm”. Bagusnya sih bikin tim yang
emang udah deket dari awal atau punya satu visi buat menang. State aja komitmen seperti apa yang diminta dalam tim. Kalau ada yang punya kesibukan
sampe gak bisa ikut PKM, let other pkm members know. Lebih baik ngasih tau kalau
emang gak sanggup ngelanjutin program daripada makan hati anggota lain.
Yak, itulah tips dari gw buat ngejalanin PKM. Btw postingan ini agak OOT sebenernya, malah udah nyeritain keluhan duluan haha. Things around the program Bebas Sampah itself will describe later, stay tune.
--continued on next post--
Comments
Post a Comment